Era Notebook Super Indonesia Dimulai

Era notebook menggantikan desktop secara total mungkin masih jauh dari kenyataan. Namun pada artikel ini, Techno Kita ingin menunjukkan notebook dengan kinerja yang menyamai bahkan mengalahkan sebuah komputer desktop. Michael m.
Semua orang pasti pernah bermimpi. Bermimpi akan sesuatu yang sangat diinginkannya. Para gadis rejnaja era 80-an, penggemar kelompok musik New Kids on The Block, tentu kepingin sekali bertemu dengan tokoh idolanya tersebut, bahkan mungkin tak sedikit yang hasratnya tersebut terbawa hingga ke dalam mimpi. Begitu juga dengan pecinta otomotif, sudah pasti banyak yang memimpikan mengendarai mobil Ferrari dengan atap terbuka di jalanan ibu kota tercinta. Namun, apakah keinginan atau impian seperti di atas dapat terwujud dengan mudah? Jelas tidak.

Lalu apakah sulitnya menggapai sebuah mimpi menghentikan niat kita untuk berusaha? Tentu saja tidak. Mimpi adalah sebuah konsep yang harus kita perjuangkan. Sebuah semangat yang melandaskan semua tindakan untuk meraih sebuah tujuan. Oleh karena itu, kita harus bermimpi (baca: berharap) karena tanpa-nya hidup tidak akan berarti.

Notebook impian

Dahulu memiliki sebuah notebook juga dianggap sebagai sebuah mimpi. Bayangkan saja, kinerja notebook sekitar akhir tahun 1999 dan harga yang diusungnya merupakan hal yang dapat disebut tidak rasional. Terlebih lagi, mobilitas yang ditawarkan notebook pada waktu itu tidak maksimal. Hal itu disebabkan penggunaan teknologi baterai yang belum optimal.

Kini, notebook sudah menjadi barang yang dapat dibilang umum dan banyak dibeli. Data International Data Corporation (IDC) menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan hampir dua kali lipat untuk penjualan notebook pada kuartal pertama dan kedua tahun 2007 di Indonesia. Dari segi penjualan se-Asia Pasifik, tren yang sama juga berlaku, dimana penjualan komputer portabel atau notebook meningkat meskipun harganya masih lebih tinggi dibandingkan dengan komputer desktop kelas entry level.

Akan tetapi, meskipun notebook sudah menjadi barang yang umum dan terjangkau, impian para penggunanya tetap tidak berubah. Mereka masih tetap bermimpi untuk memiliki sebuah notebook dengan kemampuan yang menandingi kinerja sebuah komputer desktop. Sebuah impian yang tampaknya berlebihan pada saat itu, mengingat ukuran komputer desktop yang memungkinkan penggunaan komponen besar dengan kinerja tinggi. Namun, benarkah impian tersebut tak pernah terwujud?

Teknologi semakin berkembang. Impian pun menjadi kenyataan. Akhir-akhir ini teknologi notebook sudah mencapai titik dimana kinerjanya dapat disetarakan dengan sebuah komputer desktop kelas menengah. Tentu saja ini semua berkat kerja keras para inovator dunia teknologi informasi seperti Intel, AMD, NVIDIA, dan banyak lainnya. Tanpa kerja keras mereka, tak mungkin tercipta sebuah notebook yang memiliki kinerja tinggi seperti yang ada saat ini.

Ambil contoh teknologi prosesor notebook dari Intel terkini. Dengan penggunaan teknologi prosesor dua inti Intel Core 2 Duo, prosesor yang digunakan oleh notebook menjadi serupa dengan prosesor komputer desktop dengan pemangkasan kecepatan FSB dan optimalisasi lainnya yang bertujuan untuk menghemat konsumsi daya dan mengurangi panas.

Namun, apakah notebook akan dapat benar-benar menggantikan sebuah komputer desktop? Pasalnya, para produsen masih bersikukuh untuk mempertahankan status portabilitas komputer portabel atau notebook. Ini berarti bahwa komponen yang digunakan masih tetap berorientasi kepada mobilitas dengan ukurannya yang kecil, penghematan daya, serta penghasilan panas yang minimal.

Alhasil, kinerja komponen tersebut juga tidak dapat maksimal. Umumnya untuk menghemat daya dan menghasilkan panas minimal, kecepatan akses data, prosesor, dan semua sistem kelistrikan komponen harus dipangkas. Sebagai contoh, graphics card Nvidia Geforce 8800 GT menghasilkan panas sekitar 87 derajat celcius. Tanpa tersedianya ruang sirkulasi udara yang luas pada notebook seperti yang terdapat pada komputer desktop, panas yang tinggi tersebut berpeluang untuk merusak bila digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Anda tidak perlu khawatir akan masalah tersebut karena beberapa produsen notebook sudah mulai meninggalkan kredo bahwa komputer portabel tidak boleh menggunakan komponen-komponen yang banyak mengonsumsi daya listrik. Bahkan, dapat dibilang mereka sudah mulai mengaburkan garis antara komputer portabel dan komputer desktop. Hal ini karena sudah dimulainya penerapan desain pintar guna mengefisienkan pendinginan pada sistem notebook.

Pada edisi ini Techno Kita akan menyoroti usaha tiga perusahaan produsen komputer portabel dalam menciptakan produk yang mengaburkan garis antara komputer desktop dan komputer notebook. Mereka adalah MSI, Dell, dan HP. Satu akan menjadi acuan teknologi notebook terkini, dan dua lainnya menjadi sorotan karena telah membawa notebook super dan menjualnya di tanah air.

Teknologi notebook terkini sudah meningkat drastis semenjak pengenalan Athlon Mobile dan Pentium 4 Mobile. Kini penyamarataan teknologi prosesor sudah menjadi hal yang umum di dunia notebook dan prosesor. Prosesor Intel Core 2 Duo contohnya, hanya menggunakan kecepatan FSB yang lebih tinggi untuk versi desktopnya. Sedangkan
kecepatan FSB yang lebih rendah digunakan untuk meredam panas yang dihasilkan pada versi notebook. Oleh sebab itu, umumnya produsen notebook menggunakan prosesor Intel untuk notebook kelas atas, karena sudah terbukti versi desktop maupun portabel-nya mengalahkan kinerja prosesor AMD pada banyak aplikasi sehari-hari, bukan aplikasi benchmark sintetis saja.

Atas kinerja yang tinggi, produsen seperti Dell menggunakan prosesor Intel sebagai senjata andalan produk notebook unggulannya, yaitu XPS M1730, notebook yang dapat disebut sebagai benchmark untuk semua notebook gaming sekarang ini. Dengan konfigurasi dual graphics card GeForce 8700 M GT (SLI), prosesor Intel Core 2 Duo Extreme X7900, Ageia Physx card terintegrasi, serta dual hard disk dengan konfigurasi RAID, praktis XPS Ml730 memiliki kinerja potensial dalam mem

roses game, aplikasi bisnis dan beragam aplikasi apa pun yang diciptakan untuk komputer pribadi dengan mudah. Tentunya ini disebabkan oleh beberapa faktor kunci komponen yang dipilih oleh Dell. Pertama, Dell menggunakan prosesor Intel Core 2 Duo Extreme X7900 yang memiliki kecepatan 2.8 GHz, FSB 800 MHz, serta memiliki L2 Cache sebesar 4 Megabyte.

Sekilas, prosesor X7900 tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan prosesor Intel Core 2 Duo T7800 dengan kecepatan 2.6 GHz, kecepatan FSB dan jumlah L2 Cache pun sama. Akan tetapi, TDP (lihat boks) dari prosesor ini mencapai nilai 44 Watt, lebih tinggi dibandingkan 35 Watt pada T7800. Penyebabnya prosesor X7900 memiliki feature overclock dengan multiplier yang tidak dikunci oleh Intel.

Label prosesor Core 2 Duo Extreme saja seharusnya sudah cukup untuk menggaet hati gamer yang menginginkan sebuah notebook berkinerja tinggi. Akan tetapi, Dell juga menyertakan dua graphics card Geforce 8700M GT.

Padahal satu saja sudah cukup untuk memuaskan hati gamer dengan mobilitas yang tinggi. Namun, Dell ingin menunjukkan kinerja graphics card tertinggi: menggabungkan dua Geforce 8700M GT dengan mode SLI. Dengan kombinasi graphics card dan prosesor tercepat di dalam dunia notebook, aplikasi gaming maupun bisnis dapat dengan mudah dilahap oleh XPS M1730, layaknya komputer desktop.

Impian menjadi kenyataan

Dell XPS M1730 memang notebook impian pengguna komputer portabel di manapun tak terkecuali di Indonesia. Akan tetapi, tampaknya Dell lebih memfokuskan penjualannya untuk pasar korporat di negeri tercinta ini sehingga mereka tidak menjual XPS M1730. Tentu saja, kita dapat membeli notebook tersebut di luar negeri. Namun dengan tidak adanya garansi internasional, ditambah dengan ongkos perjalanan yang sangat tinggi, rasanya sangat sulit mendapatkan notebook tersebut.

Namun, peminat notebook super setidaknya dapat terobati. Meski tidak se-menggiurkan XPS M1730, kini Hewlett Packard (HP) dan MSI telah menyediakan notebook unggulan.
MSI GX700: resolusi fenomenal sebuah notebook

MSI sebagai Original Device Manufacturer (ODM) yang memproduksi berbagai jenis notebook untuk merek-merek lain tentu memiliki pengalaman yang sangat luas dalam menciptakan sebuah notebook. Akhir-akhir ini, technokita kerap menerima notebook dengan ukuran 12” dari MSI untuk diulas. Tentu saja alasannya notebook dengan ukuran layar tersebut sedang populer karena menawarkan portabilitas dan mobilitas yang tinggi berkat ukurannya yang kompak dan daya tahan baterai yang mumpuni. Akan tetapi, di bulan November 2007, Techno Kita sedikit terperanjat mendapatkan notebook GX700 dengan ukuran layar 17”. Tidak saja besar, GX700 menggunakan prosesor Intel Core 2 Duo terbaru dan graphics card Nvidia Geforce 8600M GT.

Sekilas, spesifikasi notebook GX700 serupa dengan berbagai notebook kelas high-end lainnya. Akan tetapi, tampilan grafis tribal yang menghiasi permukaan layar notebook serta bagian bawah keyboard pada notebook ini mengindikasikan sesuatu yang lebih. Memang kenyataannya seperti itu karena GX700 hadir mengusung bendera notebook gaming dengan resolusi layar yang sangat tinggi, 1920 x 1200 pixel maksimum serta sistem tata suara 4+1. Dengan resolusi layar yang menggiurkan Anda dapat menonton video dengan resolusi high definition secara native, tidak perlu lagi harus mengecilkan gambar karena video terlalu besar dibandingkan resolusi layar notebook.

Untuk bermain game, diakui bahwa graphics card 8600M GT kurang kuat memainkan game-game terbaru dengan resolusi native 1920 x 1200 pixel-nya. Namun dengan ukuran layar 17”, Techno Kita merasa bahwa bermain game jauh lebih nyaman dengan layar besar bawaan notebook ini. Resolusi yang sangat tinggi ini juga sangat berguna apabila Anda ingin memanipulasi grafis melalui aplikasi image editor. Pasalnya, Anda dapat melihat tampilan grafis secara menyeluruh dengan detail tinggi tanpa harus membesarkan gambar tersebut.

Untuk mendukung tema hiburan pada notebook ini, MSI menyertakan sistem tata suara 4 + 1,4 speaker dengan 1 subwoofer. Dengan jumlah speaker dua kali lipat notebook-notebook di kelasnya, GX700 menghasilkan suara yang keras dan jernih dengan sedikit hentakan bass, satu hal yang jarang ditemui pada sebuah notebook. Untuk penyertaan sistem tata suara Techno Kita mengacungkan jempol pada GX700 karena dengannya, Anda tidak perlu lagi memasang sistem tata suara eksternal. Sayangnya, resolusi layar yang fenomenal ini tidak disertai dengan dukungan pembaca optik HD-DVD maupun Blu-Ray. Karena dengan pembaca tersebut, Anda dapat menonton film high definition secara langsung pada notebook.

Dari segi portabilitas, Techno Kita terkejut karena berat MSI GX700 termasuk dalam kategori tidak berat, yakni sekitar 3,8 kilogram. Bentuknya pun masih cukup tipis, sehingga dapat dimasukkan ke dalam tas dengan mudah. Memang, desain notebook ini dapat dibilang biasa saja apabila grafis tribal-nya dihilangkan. Namun, ini juga berarti bahwa GX700 dapat senantiasa menemani Anda di perjalanan.

Dengan harga US$1835, Techno Kita merasa bahwa MSI GX700 mendapatkan nilai kinerja yang cukup baik, terutama berkat penyertaan layar beresolusi tinggi, sistem tata suara yang baik, serta graphics card dan prosesor dengan spesifikasi tinggi.

HP HDX: sang naga penakluk

Bila mencari notebook dengan spesifikasi serupa XPS M1730, mungkin Anda tidak dapat menemukannya. HP HDX yang dijuluki “sang naga” ini memang tidak memiliki spesifikasi ultra tinggi dari XPS, tetapi apa yang dimilikinya akan membuat siapa pun tertegun. Dengan ukuran layar 20”, HP HDX dapat dibilang mengaburkan garis antara notebook dengan sebuah desktop. Terlebih lagi, notebook ini mengusung spesifikasi teknis yang mengungguli notebook lainnya.

Sebelum mengulas lebih jauh HDX ini, Techno Kita memutuskan untuk memasukkan kategori tawaran dari HP ini sebagai sebuah notebook meskipun memiliki ukuran yang fenomenal. Pasalnya, HDX masih memiliki profil notebook kecuali dengan tambahan mekanisme letter penunjang pada layarnya.

Dari segi prosesor, memang prosesor Intel Core 2 Duo T7500-nya serupa dengan notebook kelas high-end lainya. Namun, graphics card ATI Mobility Radeon HD 2600 XT yang digunakan oleh HDX memiliki spesifikasi yang lebih tinggi dibandingkan graphics card Nvidia Geforce 8600M GT yang kerap digunakan oleh notebook high-end lainnya. Dengan kecepatan Graphics Processing Unit (GPU) 680 MHz dan memori 750 Mhz serta dukungan penuh DirectX 10, HP HDX mendapatkan nilai 3DmarkO6 sebesar 4102. Untuk perbandingan, graphics card Geforce 8600M GT pada GX700 hanya mendapatkan nilai 3800. ,

Salah satu berita baik dari graphics card yang digunakan oleh HDX adalah fa-brikasinya sudah menggunakan 65nm, lebih dingin dibandingkan fabrikasi 80nm pada Geforce 8600M GT. Alhasil, kinerja gaming HDX masih dapat ditingkatkan dengan overclocking tanpa khawatir panas yang berlebihan, meskipun Techno Kita tidak menyarankannya.

Dengan layar 20”, HP juga menyertakan resolusi maksimal yang cukup baik pada 1680 x 1050 pixel. Memang tidak lebih tinggi dibandingkan dengan GX700, namun ukuran layarnya sudah lebih dari cukup untuk segala macam bentuk hiburan. Berbicara mengenai hiburan, HDX juga mengusung sistem tata suara 4 + 1 seperti GX700. Dengan demikian suara yang dihasilkannya pun tergolong istimewa untuk solusi komputer portabel. Untuk lebih memanjakan para penggunanya, HDX memiliki panel audio eksternal 7.1 (7 speaker + 1 subwoofer) yang terin-tegrasi di belakang notebook ini.

Sebagai sebuah solusi multimedia termutakhir, HP menyertakan beragam feature multimedia pada HDX. Resolusi layar serta ukuran layar yang besar pada notebook ini dimaksimalkan oleh HP dengan menyertakan aplikasi multimedia center yang mengagumkan, remote control terintegrasi, pembaca optik HD-DVD, serta TV-Tuner terintegrasi. Aplikasi multimedia center yang diusung oleh HDX dengan nama Quickplay telah terintegrasi secara sempurna dengan fungsi multimedia yang dimiliki oleh notebook ini.

Dengan meluncurkan aplikasi tersebut melalui satu tombol pada remote control bawaan notebook ini, ditampilkanlah sebuah aplikasi media center yang terkandung di dalamnya shortcut dengan tampilan manis ke fungsi DVD, media player, games terinstal serta TV tuner. Tak heran bila HP membanderol notebook ini dengan harga sekitar US$4000. Dengan harga sebesar itu Anda tak hanya mendapatkan notebook dengan kinerja yang tinggi, tapi juga mendapatkan sebuah multimedia station yang dapat menemani dalam perjalanan bisnis maupun santai.

Dari segi portabilitas, tidak banyak yang dapat dibicarakan mengenai HDX kecuali bahwa notebook ini memiliki berat 7 kilogram, cukup berat untuk sebuah komputer portabel. Hal ini diperparah dengan adanya mekanisme leher penunjang dibagian belakang dan permukaan atas notebook yang mengharuskan Anda menggunakan tas ekstra besar untuk membawanya.

Mekanisme leher penunjang layar HDX patut diberikan perhatian yang khusus. Dengan layar yang besar dan berat, HP menyertakan leher pfenunjang untuk menahan layar LCD secara tegak. Ketika dibuka, layar HDX berfungsi sebagaimana layaknya layar notebook umum. Namun ketika layar mencapai titik puncak bukaannya (sekitar 95-100 derajat), engsel leher penunjang yang menempel pada pangkal layar notebook bergerak terpisah, seperti layaknya layar LCD pada komputer desktop. Dengan begitu, layar LCD dapat dimajukan, dimundurkan, dan bahkan dapat ditekuk hingga kurang lebih 130 derajat ke arah atas. Cukup mengagumkan mengingat ukuran layarnya yang cukup besar.

Baterai HDX hanya sanggup bertahan satu setengah jam pada penggunaan browsing Internet melalui Wi-Fi serta bekerja dengan mengedit aplikasi Word dan Excel. Di lain pihak, MSI GX700 bertahan hingga dua jam lebih dengan bobot penggunaan yang sama.

Akhir kata, Techno Kita cukup terkesan dengan keberanian MSI dan HP dalam memperkenalkan dan menjual dua buah notebook yang notabene revolusioner dari segi feature yang ditawarkannya. Namun sebagaimana layaknya perintis, sudah pasti banyak yang akan mengikuti jejak MSI dan HP dalam memperkenalkan produk notebook super. Memang era dimana sebuah notebook mainstream dapat menyamai atau mengalahkan kinerja komputer desktop dan workstation masih jauh. Akan tetapi, dengan hadirnya para perin-tis-perintis ini, Techno Kita yakin bahwa suatu saat dan tidak akan lama lagi, akan hadir era dimana notebook adalah satu-satunya perangkat komputer yang Anda butuhkan untuk bekerja, bermain, dan menyimpankan kenangan-kenangan berharga dalam hidup Anda.