Peranan teknologi Dalam Kehidupan Masyarakat

Akhir tahun lalu di beberapa ruas jalan di Jakarta diujicobakan peraturan yang mengharuskan para pengendara sepeda motor meluncur hanya di jalur kiri. Ternyata hasilnya cukup positif.

Bukan saja mobil-mobil bisa melaju dengan lebih cepat, jumlah kecelakaan juga berkurang. Setidak-tidaknya, begitulah menurut catatan Direktorat Lalu-lintas Polda Metro Jaya, sebagaimana dilaporkan Tempointeraktif pada tanggal 11 Januari yang lalu. Tetapi, apa yang terjadi? Setelah beberapa bulan berlalu, kita lihat sendiri bagaimana pengendara sepeda motor sudah kembali leluasa menguasai semua lajur di jalan-jalan utama Jakarta. Kita kembali mengalami kemacetan karena mobil dan sepeda motor sudah campur aduk lagi.

Stamina vs Resistensi

Kemampuan menciptakan solusi yang kreatif dan inovatif untuk memecahkan suatu masalah sudah lama menjadi perhatian kita semua. Di perguruan tinggi, terutama di jurusan-jurusan bisnis dan manajemen, kita diwajibkan membaca studi-studi kasus untuk memupuk kemampuan memecahkan masalah.

Pencarian solusi seharusnya tidak lagi merupakan tantangan bagi kita. Yang membuat kita selalu tersandung adalah bahwa pimpinan tidak mempunyai stamina untuk terus-menerus mengawasi pelaksanaan di tingkat operasional.

Dalam hal keharusan bagi sepeda motor untuk menggunakan jalur kiri ini, umpamanya, kekurangan tenaga polisi untuk secara konsisten menangkapi pengendara sepeda motor yang tidak kooperatif adalah titik lemah yang sudah kita perkirakan sejak awal. Maklumlah, begitu banyak di antara kita lebih suka melakukan pelanggaran begitu tidak ada yang mengawasi, sementara jumlah personil polisi kita masih terlalu kecil.

Di dunia bisnis, kendala yang dihadapi tidaklah berbeda. Dalam sebuah organisasi sering muncul ide-ide cemerlang untuk mengatasi masalah yang sudah berlangsung lama. Ambillah e-Procurement, misalnya. Konsepnya sangat menarik, yaitu pemanfaatan teknologi untuk memaksimalkan efisiensi. Yang biasanya menjadi faktor penghambat adalah pihak-pihak yang selama ini mendapat keuntungan dari sistem pengadaan yang konvensional. Mereka, antara lain, adalah orang-orang yang selama ini /menikmati selisih markup dalam berbagai pembelian yang dilakukan perusahaan.

E-Procurement lalu menjadi ajang tarik tambang antara pimpinan perusahaan yang menginginkan kontrol, pengendalian biaya dan transparansi yang lebih baik di satu pihak dan mereka yang menolak sistem ini di lain pihak. Tidak jarang terjadi upaya dengan tujuan baik ini gagal karena pimpinan tidak memiliki stamina yang memadai.

Stamina dalam menerapkan aturan main yang baru sangatlah dibutuhkan, terutama bila ada pihak yang merasa dirugikan. Pimpinan dituntut memiliki stamina yang luar biasa demi suksesnya perubahan. Sayangnya, stamina pemimpin sering kali tidaklah sedahsyat stamina mereka yang menentang.

Ketika baru menduduki jabatannya, seorang presiden direktur biasanya akan menggebu-gebu dengan berbagai sasaran muluk. Namun, setelah beberapa waktu, kegarangannya akan memudar. Akhirnya pihak yang resisten akan menang dan bisnis kembali ke praktik-praktik lama.

Empat Prinsip Sukses

Ada serangkaian artikel menarik di Harvard Business Review Edisi Juli-Agustus 2007. Salah satunya adalah artikel berjudul “The Four Principles of Enduring Success,” yang membahas faktor-faktor yang membedakan “great companies” dari “good companies.” Penulisnya, Christian Stadler, mengidentifikasi empat hal yang membedakan kedua kelompok perusahaan ini. Dari keempat prinsip itu, ada dua atau tiga yang sangat relevan bagi organisasi bisnis—maupun pemerintah—yang ingin melakukan perubahan.

Pertama, kita harus lebih memfokuskan diri pada eksploitasi aset dan kapabilitas yang sudah ada dan baru mengejar inovasi bila semuanya itu telah kita manfaatkan sepenuhnya. Kedua, kita tidak boleh melupakan kesalahan yang telah kita perbuat di waktu lampau, agar kita tidak mengulanginya lagi. Ketiga, kita harus berhati-hati dalam melakukan perubahan, karena

E-Procurement lalu menjadi ajang tarik tambang antara pimpinan perusahaan… 1£

“great companies” ternyata justru jarang melakukan perubahan yang radikal. Prinsip keempat, yang tidak relevan bagi pembawa perubahan adalah diversifikasi.

Dalam merumuskan kebijakan publik, sering kali orang tidak mempedulikan prinsip ke tiga. Sering kali peraturan dikeluarkan terburu-buru, tanpa memikirkan bagaimana pelaksanaannya di lapangan dapat diawasi.

Tentu saja semua prinsip ini menjadi tidak penting jika yang dicari hanyalah keberhasilan jangka pendek. Dan, celakanya, kita memang lebih sering terobsesi oleh sasaran-sasaran jangka pendek.